Problematika Penggunaan Bahasa Gaul di Kalangan Generasi Muda: Antara Kreativitas, Tren, dan Tantangan bagi Bahasa Indonesia


        MALANG - POJOK FAKTA ONLINE

Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah membawa perubahan signifikan dalam pola komunikasi generasi muda Indonesia. Salah satu fenomena yang paling menonjol adalah semakin masifnya penggunaan bahasa gaul dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa yang awalnya berkembang dalam lingkup pertemanan kini telah menjadi bagian dari identitas generasi muda dan digunakan dalam berbagai situasi komunikasi, baik secara langsung maupun melalui platform digital.

Fenomena tersebut terungkap dalam penelitian yang dilakukan mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Brawijaya mengenai penggunaan bahasa gaul di kalangan generasi muda. Penelitian ini melibatkan sembilan narasumber dari berbagai latar belakang, mulai dari siswa SMA, mahasiswa, hingga pekerja.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa gaul tidak lagi sekadar alat komunikasi informal, tetapi telah menjadi bagian dari budaya digital yang memengaruhi kehidupan generasi muda. Mayoritas narasumber menilai bahasa gaul sebagai bentuk bahasa yang berkembang secara dinamis mengikuti perubahan zaman dan tren yang beredar di masyarakat.

Menurut Lais, seorang siswa SMA, bahasa gaul banyak dipengaruhi oleh budaya populer yang berkembang di media sosial.

"Bahasa gaul itu merupakan bahasa yang informal, yang berkembang secara dinamis di kalangan generasi muda dan biasanya dipengaruhi oleh budaya populer di media sosial dan interaksi sehari-hari," ujarnya.

Bahasa gaul dinilai mampu menciptakan suasana komunikasi yang lebih santai, akrab, dan mudah dipahami oleh sesama generasi muda. Berbagai istilah baru terus bermunculan dan menyebar dengan cepat melalui platform seperti TikTok, Instagram, X, dan media sosial lainnya.

Pandangan serupa disampaikan Rama, mahasiswa Universitas Brawijaya. Menurutnya, banyak istilah gaul berawal dari candaan atau plesetan yang kemudian berkembang menjadi tren setelah viral di media sosial.

Ia menilai media sosial memiliki peran besar dalam mempercepat penyebaran kosakata baru di masyarakat. Sementara itu, Panji, mahasiswa Universitas Brawijaya, melihat bahasa gaul sebagai sarana yang mampu mempererat hubungan sosial. Penggunaan bahasa yang lebih santai dinilai memudahkan seseorang diterima dalam lingkungan pergaulan.

Selain berfungsi sebagai alat komunikasi, bahasa gaul juga dianggap sebagai simbol identitas sosial. Kesamaan penggunaan istilah tertentu sering kali menjadi penanda kedekatan antaranggota kelompok.

Penelitian ini juga menemukan bahwa sebagian besar narasumber memandang bahasa gaul sebagai bentuk kreativitas berbahasa. Munculnya berbagai istilah baru dianggap sebagai bukti bahwa bahasa terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat.

Kreativitas tersebut tampak dari lahirnya berbagai kata dan frasa hasil perpaduan bahasa Indonesia, bahasa asing, hingga permainan kata yang kemudian memiliki makna baru di tengah masyarakat. Namun, para narasumber juga mengakui bahwa penggunaan bahasa gaul yang terlalu dominan dapat memengaruhi kemampuan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Beberapa responden mengungkapkan bahwa kebiasaan menggunakan bahasa gaul membuat seseorang lebih sering memakai bentuk bahasa nonbaku. Akibatnya, ketika harus berbicara atau menulis dalam situasi formal, mereka membutuhkan usaha lebih untuk menyesuaikan diri dengan kaidah bahasa Indonesia.

Kondisi tersebut kerap terlihat saat mahasiswa mengerjakan tugas akademik atau mengikuti ujian. Tidak sedikit yang secara tidak sadar memasukkan istilah nonformal ke dalam tulisan resmi karena sudah terbiasa menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.

Temuan serupa juga ditemukan pada siswa sekolah menengah yang mengaku lebih sering menggunakan bahasa gaul dibandingkan bahasa Indonesia baku saat berinteraksi dengan teman sebaya.

"Kalau kebanyakan pakai bahasa gaul, kadang jadi susah pas harus ngomong atau nulis yang formal. Kayak kepikiran kata gaul terus," kata Safero, siswa SMA yang menjadi salah satu narasumber penelitian.

Selain berdampak pada kemampuan berbahasa formal, penelitian ini juga menunjukkan adanya perubahan pola komunikasi di kalangan generasi muda. Banyak narasumber menilai batas antara bahasa formal dan informal kini semakin cair.

Istilah-istilah yang sebelumnya hanya digunakan dalam percakapan santai mulai muncul dalam lingkungan organisasi, kampus, hingga dunia kerja yang bersifat semi formal. Rama mencontohkan penggunaan kata seperti "gak" dan "kayak", serta berbagai istilah viral yang kerap disisipkan dalam percakapan dengan dosen maupun orang yang lebih tua.

Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan adanya pergeseran norma berbahasa yang dipengaruhi perkembangan teknologi dan budaya digital. Meski demikian, perubahan tersebut tidak menghilangkan penggunaan bahasa Indonesia formal, melainkan menunjukkan adanya transformasi cara berkomunikasi di masyarakat.

Beberapa narasumber juga mengamati semakin seringnya penggunaan istilah seperti besti, guys, spill, healing, red flag, dan FOMO dalam berbagai konteks komunikasi. Bahkan, sejumlah istilah tersebut mulai digunakan dalam kegiatan organisasi mahasiswa maupun komunikasi profesional yang tidak terlalu formal.

Meski terjadi pergeseran penggunaan bahasa, mayoritas narasumber tidak menganggap bahasa gaul sebagai ancaman bagi eksistensi bahasa Indonesia. Mereka berpendapat bahwa kedua ragam bahasa tersebut memiliki fungsi yang berbeda dan dapat berjalan berdampingan.

Bahasa Indonesia formal tetap digunakan dalam pendidikan, administrasi, kegiatan akademik, hukum, dan berbagai urusan resmi lainnya. Sementara itu, bahasa gaul lebih banyak digunakan dalam komunikasi informal yang menekankan keakraban dan ekspresi diri.

Farikha, mahasiswa Universitas di Surabaya, menilai keberadaan bahasa gaul justru memperkaya variasi bahasa yang digunakan masyarakat.

"Yang penting kita tahu tempat. Kalau sama dosen ya pakai bahasa formal, kalau sama teman ya pakai bahasa gaul. Jadi bukan kualitasnya yang turun, tetapi cara penggunaannya yang semakin beragam," ungkapnya.

Penelitian ini juga menemukan bahwa media sosial merupakan faktor paling dominan yang memengaruhi perkembangan bahasa gaul. Hampir seluruh narasumber menyebut istilah-istilah baru umumnya berasal dari konten viral, influencer, kreator digital, maupun tren yang berkembang di internet.

Selain itu, kebutuhan komunikasi yang cepat dan efisien juga menjadi alasan utama penggunaan bahasa gaul. Banyak generasi muda menganggap bahasa gaul lebih praktis karena mampu menyampaikan makna yang kompleks dalam bentuk yang lebih singkat dan mudah dipahami.

Berdasarkan keseluruhan hasil wawancara, penelitian ini menyimpulkan bahwa bahasa gaul merupakan bagian dari perkembangan bahasa yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan generasi muda saat ini. Bahasa gaul hadir sebagai bentuk kreativitas, identitas sosial, sekaligus adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan media digital.

Namun demikian, penggunaan bahasa gaul perlu diimbangi dengan kemampuan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dengan demikian, generasi muda dapat menyesuaikan diri dengan berbagai konteks komunikasi yang berbeda.

Pada akhirnya, bahasa gaul dan bahasa Indonesia formal tidak perlu dipertentangkan. Keduanya memiliki fungsi masing-masing dan dapat berjalan berdampingan selama pengguna memahami konteks penggunaannya. Tantangan yang dihadapi saat ini bukanlah menghilangkan bahasa gaul, melainkan membangun kesadaran generasi muda untuk tetap menjaga kemampuan berbahasa Indonesia formal di tengah arus perkembangan budaya digital yang terus bergerak cepat.

Peneliti : Marcellino Yosef Imanuel Dkk (Mahasiswa Universitas Brawijaya)

Jurnalis : Mahmud

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama