SURABAYA, POJOK FAKTA ONLINE Patung Suro dan Boyo yang berdiri megah di depan Kebun Binatang Surabaya (KBS) bukan sekadar monumen penghias kota.
Menurut pegiat Surabaya, Nur Setiawan, patung ini menjadi landmark kebanggaan yang menandai semangat Surabaya sebagai kota pariwisata sejak akhir dekade 1980-an. Keberadaannya kini menjadi salah satu ikon utama yang tidak terpisahkan dari identitas Kota Pahlawan.
Nur Setiawan menjelaskan, patung tersebut didirikan pada tahun 1988, ketika Purnomo Kasidi menjabat sebagai Wali Kota Surabaya. Saat itu, pemerintah kota tengah gencar mendorong penghijauan dengan melakukan penanaman massal pohon angsana di berbagai sudut kota.
“Patung Suro dan Boyo bukan hanya penanda visual, tapi juga simbol semangat pembangunan kota yang hijau dan berkarakter,” ujarnya, Minggu (01/02/2026).
Pembangunan patung ini digagas sebagai bagian dari upaya memperkuat citra Surabaya sebagai kota pariwisata Jawa Timur. Sosok yang berperan dalam proses kreatifnya adalah Sigit, seorang seniman patung yang banyak berkarya di Jawa Timur, sedangkan rancangan arsitekturnya dikerjakan oleh Sutomo Kusnadi, seorang insinyur lokal. Keduanya berkolaborasi menghasilkan bentuk khas ikan sura dan buaya yang saling berhadapan, menggambarkan kekuatan dan keteguhan.
Selain menjadi landmark kota, patung ini juga menyimpan makna filosofis yang mendalam. Nur Setiawan menyebut, pergumulan dua hewan dalam monumen itu menggambarkan tekad dan daya juang masyarakat pesisir Surabaya yang pantang menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
“Monumen ini bukan sekadar karya seni, tetapi cerminan karakter masyarakat yang kuat dan ulet,” katanya.
Ia menambahkan, keberadaan patung tersebut sekaligus menjadi pengingat akan kebesaran sejarah Surabaya yang telah eksis sejak masa Majapahit hingga era kemerdekaan. Dalam pandangannya, setiap warga dan pengunjung yang melintasi kawasan itu seharusnya mampu meresapi pesan perjuangan dan semangat yang diwariskan oleh generasi terdahulu.
Kini, di tengah perubahan zaman dan pembangunan kota yang kian modern, Patung Suro dan Boyo tetap berdiri kokoh sebagai ikon abadi Kota Pahlawan. Sosok ikan sura dan buaya itu menjadi saksi bisu perjalanan Surabaya—kota yang dibangun dari semangat juang, pengorbanan, dan tekad kuat untuk terus tumbuh menjadi kota yang berdaya dan berkarakter.
(Red)
